Minggu, 13 Juli 2014

SEJARAH PASKIBRAKA



Sejarah paskibraka
Apa itu PASKIBRAKA ?
  1. PASuKan PengIbar BendeRA PusaKA
  2. Sosok Pemuda Dengan Sikap Pribadi Dan Penampilan Yang Mandiri, Aktif Dinamis, Penuh Dedikasi, Peka, Tanggap, Teguh Dan Berpendirian, Memiliki Pendapat Dan Keyakinan, Argumentasi Kuat Dan Benar, Terbuka Atas Kritik Dan Kritisan, Sadar Kelemahan Dan Kekurangan, Inovatif, Berjiwa Mulia. ( DR. R. SIHADI DARMO WIHARDJO)
  3. Adalah Kumpulan pemuda-pemudi setingkat SLTA yang mengibarkan bendera pusaka pada upacara detik-detik proklamasi baik di tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota.
  4. generasi muda yang bertanggung jawab atas hari depan bangsa Indonesia yang mendapat kehormatan  bertugas sebagai PENGIBAR DAN PENURUN BENDERA MERAH PUTIH dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, yang merupakan tugas besar
BENDERA PUSAKA
          Adalah bendera yang dijahit dengan engkol tangan oleh Ibu Fatmawati untuk dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945.
          Aslinya bendera itu berukuran 2 x 3 meter, tetapi setelah sering dicuci kini mengerut menjadi 196 x 274 centimeter.
          Sebelum 17 Agustus 1945, bendera Merah-Putih itu sudah beberapa kali dikibarkan. Pada 30 April 1945, sehari setelah ulang tahun Kaisar Hirohito, Pemerintah Militer Jepang di Indonesia mengumumkan izin untuk mengibarkan Merah-Putih bersama Hinomaru (bendera Jepang) pada hari-hari besar.
SEJARAH PASKIBRAKA
          Asal mula PASKIBARA tidak bisa lepas dari upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.
          Pada saat itulah bendera pusaka dikibarkan pertama kali.
          Adapun yang mengibarkan bendera pada saat itu adalah Latief Hendraningrat, Trimurti, dan Suhud.
1946
          Menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, Presiden Soekarno memanggil salah satu ajudannya, Mayor (L) Hussein Mutahar dan memberi tugas untuk mempersiapkan dan memimpin Upacara peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.
          Hussein Mutahar memiliki pemikiran bahwa untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa, maka pengibaran bendera sebaiknya dilakukan oleh para pemuda se-Indonesia.
          Kemudian beliau menunjuk 5 orang pemuda (3 putri dan 2 putra) perwakilan daerah yang ada di Yogyakarta.
          Lima orang adalah simbol dari Pancasila
1947 – 1948
          Pengibaran Bendera Pusaka pada Upacara Proklamasi Kemerdekaan RI ditangani oleh Hussein Mutahar.
          Jumlah pengibar sebanyak 5 orang pemuda.
          Secara bergiliran menampilkan para pemuda dari daerah-daerah Indonesia lainnya.
1950 – 1966
          Pengibaran Bendera dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan.
          Hussein Mutahar kembali menangani pengibaran bendera, ditandai dengan pengangkatan beliau menjadi Dirjen Urusan Pemuda dan Pramuka Depdikbud yang kemudian menghasilkan konsep Latihan Pandu Indonesia ber-Pancasila.
          Konsep pelatihan ini sempat diujicobakan pada tahun 1967, dan dimasukkan dalam kurikulum uji coba Pasukan Pengerek Bendera Pusaka (PASREKRAKA) Tahun 1967
          Kekhasan konsep Latihan Pandu Indonesia ber-Pancasila adalah metode diklat menggunakan sistem pendekatan Keluarga Bahagia yang diterapkan secara nyata dalam Pendekatan Desa Bahagia.
          Dikembangkan formasi pengibaran menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok 17 (pengiring/pemandu), kelompok 8 (pembawa/inti), dan kelompok 45 (pengawal). Formasi ini merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 ( 17 – 8 – 45 )
          Melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka.
          Adapun yang menjadi bagian dari kelompok 45, semula direncanakan dari mahasiswa AKABRI. Karena kendala transportasi dan masa libur perkuliahan, maka dibatalkan.
          Usul lain melibatkan anggota dari pasukan khusus ABRI (RPKAD, PGT, MARINIR, BRIMOB) juga tidak mudah.
          Diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres) yang mudah dihubungi sekaligus posisi tugas yang memang ada di Istana Negara.
1968
          Petugas pengibar bendera pusaka mulai berasal dari para pemuda utusan dari provinsi.
          Karena belum seluruh provinsi mengirim utusan sehingga ditambah dengan eks anggota pasukan tahun 1967.
1969
          Karena bendera pusaka kondisinya sudah tua & tidak mungkin lagi dikibarkan. Untuk itu dibuatlah dulikat bendera pusaka yang dijahit dari 3 potong kain merah dan 3 potong kain putih kekuning-kuningan dari bahan wool.
          Selanjutnya dibuatlah bendera pusaka duplikat untuk dibagikan kepada daerah, yang idealnya terbuat dari sutera alam Indonesia dan ditenun dengan alat tenun asli Indonesia yang warna merah dan putihnya menyatu tanpa jahitan.
          Dengan adanya bendera duplikat, bendera pusaka asli bertugas mengantar, mengiringi, dan menjemput pengibaran dan penurunan bendera duplikat.
          Pada tahun ini, secara resmi, anggota pengibar bendera pusaka terdiri dari utusan 26 provinsi yang terdiri dari 1 pasang putra dan putri.
          Bendera Merah Putih duplikat Bendera Pusaka yang akan dibagikan ke daerah idealnya terbuat dari sutra alam dan alat tenun asli Indonesia, yang warna merah dan putihnya langsung ditenun menjadi satu tanpa dihubungkan dengan jahitan dan warna merahnya cat celup asli Indonesia.
          Pembuatan Duplikat Bendera Pusaka ini dilaksanakan oleh Balai Penelitian Tekstil Bandung dengan dibantu oleh PT Ratna di Ciawi Bogor.
          Dalam prakteknya pembuatan duplikat Bendera Pusaka, sukar untuk memenuhi syarat ideal yang ditentukan Bapak Husein Mutahar, karena cat asli Indonesia tidak memiliki warna merah yang standar dan pembuatan dengan alat tenun bukan mesin akan lama.
          5 Agustus 1969 di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Presiden Suharto kepada Gubernur / Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia.
          Selanjutnya kedua benda tersebut juga di bagikan ke Daerah Tingkat II serta perwakilan-perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.
          Bendera duplikat (dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan.
1967 – 1972
          Dari tahun 1967 sampai tahun 1972 anggota yang terlibat masih dinamakan sebagai anggota "Pengerek Bendera"
1973
          Idik sulaeman (terlibat sebagai pembina pasukan penggerek bendera sejak 1967) melontarkan sebuah nama untuk anggota pengibar bendera pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA.
          PAS berasal dari PASUKAN. KIB berasal dari KIBAR mengandung pengertian PENGIBAR. RA berasal dari BENDERA. KA berasal dari PUSAKA.
          Nama anggun itulah yang hingga kini dipertahankan.
2001
          Pada masa presiden Abdurrahman Wahid, nama PASKIBRAKA sempat diganti dengan BARISAN GENERASI MUDA PENGIBAR BENDERA PUSAKA.
          Penggantian nama dilakukan dengan alasan bahwa kata PASUKAN berbau militeristik, dimana pada masa itu terdapat ketidaksenangan terhadap hal-hal yang berbau militer.
2002
          Pada masa presiden Megawati Soekarnoputri, kembali digunakan nama PASKIBRAKA.
          Bendera duplikat sudah tidak diiringi lagi oleh bendera pusaka karena faktor usia yang sudah tidak memungkinkan.
HUSSEIN MUTAHAR (BAPAK PASKIBRAKA INDONESIA)
LAMBANG ANGGOTA
1973 s.d. sekarang
Sebelum 1973
          Pada kelopak bahu seragam PASKIBRAKA dikenakan tanda ciri pemuda dan pramuka, yaitu “BINTANG SEGI LIMA” dan “CIKAL KEMBAR KELAPA”.
          Tetapi karena pemakaian lambang-lambang tersebut menuai kritik negatif, akhirnya digunakan lambang yang dipakai pada saat sekarang ini.
1973 s.d. Sekarang
          Lambang anggota merupakan ciptaan Idik Sulaeman pada tahun 1973.
          Lambang anggota PASKIBRAKA adalah setangkai BUNGA TERATAI yang mulai mekar dan dikelilingi oleh sebuah gelang rantai, yang mata rantainya berbentuk bulat dan belah ketupat, sebanyak masing-masing 16 buah.
          Lambang berupa Bunga Teratai yang tumbuh dari lumpur (tanah) dan berkembang di atas air, hal ini mengandung makna atau dianalogikan bahwa anggota PASKIBRAKA adalah pemuda yang tumbuh dari bawah (orang biasa) dari tanah air yang sedang berkembang (mekar) dan membangun.
          BUNGA TERATAI bermahkota 3 helai, bermakna BELAJAR, BEKERJA dan BERBHAKTI.
          BUNGA TERATAI berkelopak 3 helai, bermakna AKTIF, DISIPLIN, dan GEMBIRA.
          MATA RANTAI berkaitan melambangkan persaudaraan yang akrab antar sesama generasi muda yang ada di berbagai pelosok (16 penjuru mata angin) tanah air, tanpa memandang asal suku, agama, status sosial dan golongan akan membentuk jalinan mata rantai persaudaraan sebangsa yang kokoh dan kuat .
          BENTUK BULAT bermakna pemuda putri dan BENTUK BELAH KETUPAT bermakna pemuda putra.
          Diharapkan anggota PASKIBRAKA mampu menangkal pengaruh dari luar dan memperkuat ketahanan nasional, melalui jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan yang telah tertanam dalam dada setiap anggota PASKIBRAKA
LAMBANG KORPS
1973 s.d. sekarang
Sebelum 1973
          Untuk mempersatukan Korps, untuk PASKIBRAKA Nasional, Propinsi dan Kabupaten/Kota ditandai oleh Korps yang sama
          Lambang KORPS PASKIBRAKA berupa lencana yang terbuat dari logam (kuningan) dengan gambar yang sederhana, yaitu perisai dengan gambar bendera merah putih di dalam lingkaran, dikelilingi kalimat “PASUKAN PENGEREK BENDERA PUSAKA”  dan angka tahun di ujung bawah perisai.
1973 s.d. Sekarang
          Lambang KORPS PASKIBRAKA adalah bentuk perisai berwarna hitam dengan garis pinggir dan huruf berwarna kuning bertuliskan “PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA” dan tahun tugas pada ujung bawah perisai, berisi gambar dalam bulatan putih sepasang anggota PASKIBRAKA dilatar belakangi bendera merah putih yang sedang berkibar dan 3 garis horison atau awan.
          BENTUK PERISAI bermakna “Siap Bela Negara” termasuk bangsa dan tanah air Indonesia, warna hitam bermakna teguh dan percaya diri, warna kuning berarti kebanggaan dan keteladanan dalam perilaku dan sikap anggota PASKIBRAKA.
          SEPASANG ANGGOTA PASKIBRAKA bermakna bahwa PASKIBRAKA terdiri dari anggota putra dan putri yang dengan teguh hati bertekad untuk mengabdi dan berkarya bagi pembangunan Indonesia.
          BENDERA MERAH PUTIH yang sedang berkibar adalah bendera kebangsaan INDONESIA yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh bangsa Indonesia termasuk generasi mudanya yang terwakili oleh anggota PASKIBRAKA
          GARIS HORISON ATAU AWAN 3 garis menunjukkan bahwa PASKIBRAKA ada di 3 tingkat pemerintahan, yaitu Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.

TANDA PENGUKUHAN PASKIBRAKA
          Sebagai tanda pengukuhan yang menandai berakhirnya Pelatihan PASKIBRAKA (yang merupakan salah satu Latihan Kepemimpinan Pemuda Tingkat Perintis) para anggota PASKIBRAKA yang dikukuhkan mengenakan kendit kecakapan yang dililitkan di pinggang dan disimpul mati di bagian depan (perut).
          Kendit adalah tanda ksatria pada jaman dulu yang mengikrarkan kesetiannya pada kerajaan. Hal ini melambangkan bahwa para anggota PASKIBRAKA setelah lulus dari pelatihan sebagai pemegang kendit memiliki sifat dan jiwa ksatria dalam pemikiran, perkataan dan perbuatannya sehari-hari.
          Kendit terbuat dari kain, bermotif gambar rantai terdiri dari 17 mata rantai berbentuk belah ketupat dan 17 mata rantai berbentuk bulat. Pada seluruh mata rantai berisi huruf yang membentuk kalimat PANDU IBU INDONESIA BERPANCASILA
          Semula ukuran panjang dan lembar kendit adalah 17 dm dan 5 cm yang melambangkan angka tanggal 17 dan 5 sila, tetapi karena kesulitan pada teknik printing berubah menjadi 140 cm dan 5 cm.
          Sebagai LENCANA PENGUKUHAN digunakan Lencana Merah Putih dan Garuda (MPG) dengan warna dasar garuda sama dengan warna dasar kendit.
          Warna tersebut berdasarkan tingkatan Latihan Kepemimpinan Pemuda sebagai berikut
          HIJAU untuk lat. PERINTIS PEMUDA.
          MERAH untuk lat. PEMUKA PEMUDA.
          COKLAT untuk lat. PENUNTUN PEMUDA.
          KUNING untuk lat. PENDAMPING PEMUDA.
          UNGU untuk lat. PENAYA KEPEMUDAAN.
          ABU-ABU untuk lat. PENATAR KEPEMUDAAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar